The curriculum is a program that is planned and implemented to achieve goals. Therefore the implementation of an education requires a concept that functions to be a tool that can always be changed according to the times. This study analyzes the concepts of the curriculum and curriculum of Islamic Education which includes understanding, curriculum components, and characteristics. The method used in this study is the library research method and the results obtained that the curriculum includes a variety of detailed student activity plans in the form of educational materials, suggestions for teaching and learning strategies, program settings to be applied, and things that includes activities aimed at achieving the desired target/goal. Similarly, in the Islamic Education curriculum must pay attention to a number of things including in accordance with human nature, including the interests of Muslims in general, are realistic, comprehensive, and continuity. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Konsep Kurikulum… 34 DOI KONSEP KURIKULUM DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Yudi Candra Hermawan1, Wikanti Iffah Juliani2, Hendro Widodo3 1,2,3,Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Indonesia email yudican986 hwmpaiuad Abstract The curriculum is a program that is planned and implemented to achieve goals. Therefore the implementation of an education requires a concept that functions to be a tool that can always be changed according to the times. This study analyzes the concepts of the curriculum and curriculum of Islamic Education which includes understanding, curriculum components, and characteristics. The method used in this study is the library research method and the results obtained that the curriculum includes a variety of detailed student activity plans in the form of educational materials, suggestions for teaching and learning strategies, program settings to be applied, and things that includes activities aimed at achieving the desired target / goal. Similarly, in the Islamic Education curriculum must pay attention to a number of things including in accordance with human nature, including the interests of Muslims in general, are realistic, comprehensive and continuity. Keywords Concepts; Curriculum; Islamic Education Abstrak Kurikulum merupakan suatu program yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu penyelenggaraan sebuah pendidikan memerlukan sebuah konsep yang berfungsi menjadi alat yang selalu bisa dirubah sesuai dengan perkembangan zaman. Penelitian ini menganalisis tentang konsep kurikulum dan kurikulum Pendidikan Islam yang mencakup pengertian, komponen kurikulum, dan karakteristiknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan dan diperoleh hasil bahwa kurikulum mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk bahan pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai target/ tujuan yang diinginkan. Begitu pula dalam kurikulum Pendidikan Islam harus Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Maret 2020 35 memperhatikan beberapa hal diantaranya sesuai dengan fitrah manusia, mencakup kepentingan umat Islam pada umumnya, bersifat realistic, komprehensif dan kontinuitas. Kata Kunci Konsep, Kurikulum, Pendidikan Islam PENDAHULUAN Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya karena dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi diri serta kepribadiannya melalui proses pembelajaran yang dijalani atau dengan cara lain yang telah dikenal di masyarakat Nurmadiah, 2018; 41. Menurut pandangan Islam sendiri pendidikan sering disebut dalam empat istilah, yaitu at-tarbiyah, at-ta’lim, at-ta’dib dan ar-riyadhah Mahmud, 2014; 1. Pada dasarnya pendidikan memiliki inti yaitu interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk berusaha membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan Syaodih Sukmadinata, 2017 1. Namun, menurut Syahidin 2009; 2 pendidikan tidak hanya merupakan transfer ilmu antara pendidik dengan peserta didik melainkan juga merupakan suatu proses dalam pembentukan karakter peserta didik. Maka dari itu pendidikan bersifat dinamis karena terus mengalami perubahan-perubahan untuk beradaptasi dengan ruang dan waktu serta karakter menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan global Muhammad Irsad, 2016; 231. Perubahan-perubahan yang dilakukan tentunya dengan tujuan yakni memperbaiki pendidikan itu sendiri dengan cara menambahkan konsep yang bersifat dan mempertahankan kebaikan pada konsep yang lama Muhammad Irsad, 2016; 232. Menurut Muhammad Irsad 2016; 233 jika perubahan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari maka perubahan itu pun tidak dapat di arahkan hanya kepada sebagian sub pendidikan saja, melainkan mengarah kepada seluruh aspek pendidikan, dalam hal ini tidak terkecuali kepada kurikulum sebagai sebuah kerangka program dalam melaksanakan sebuah proses pendidikan. Kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan yang ada dimana pun, tanpa adanya kurikulum sangat sulit bahkan tidak mungkin Konsep Kurikulum… 36 bagi para perencana pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncananya, memgingat pentingnya peranan kurikulum dalam mensukseskan program belajar mengajar, maka kurikulum perlu dipahami dengan baik oleh semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan terutama para pendidik atau guru Silahuddin, 2014 333-334. Selama ini kita mengenal kurikulum sebagai sebuah alat yang menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan saja. Namun, jika kita mengkaji lebih jauh lagi kurikulum memliki sebuah konsep yang sangat kompleks dalam dunia pendidikan. Kurikulum memiliki arti sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku dalam jangka waktu tertentu dan perlu perubahan agar sesuai dengan perkembangan zaman Silahuddin, 2014 333Di Indonesia perubahan kurikulum sudah beberapa kali mengalami perubahan. Dalam catatan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum di Indonesia telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947 dengan nama Kurikulum Rencana Pelajaran, 1952 dengan nama Kurikulum Rencana Pelajaran Terurai, 1964 dengan nama Kurikulum Rencana Pendidikan, 1968, 1975, 1984, 1994, yang masing-masing menggunakan tahun sebagai nama kurikulum, 2004 dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2006 dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dan yang terbaru adalah kurikulum 2013 atau yang lebih dikenal dengan sebutan K-13 Muhammad Irsad, 2016; 233. Merujuk berbagai uraian di atas, pembahasan pada makalah ini akan menguraikan konsep kurikulum dan kurikulum pendidikan Islam yang diangkat dari beberapa teori dari para ahli sehingga nantinya pembaca akan mengetahui apa itu kurikulum dan kurikulum pendidikan Islam. PEMBAHASAN 1. Kurikulum a. Pengertian kurikulum Menurut pandangan yang lampau kurikulum memiliki pengertian kumpulan mata pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik Syaodih Sukmadinata, 2017 4. Anggapan tersebut masih Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Maret 2020 37 mengakar dalam benak masyarakat umum yang menjadikan gambaran kurikulum. Kurikulum yang menjadi jantungnya Pendidikan Arifin, 2018 58 tentunya harus dikenal dengan benar oleh masyarakat tentang konsepnya yang sebenarnya. Pandangan lain dari kurikulum menurut al-Shaybani yang dikutip oleh Hasan Langgulung 1985; 145 kurikulum merupakan kumpulan pengalaman pendidikan, kebudayaan, ilmu sosial, olahraga, serta ilmu kesenian yang disediakan oleh lembaga pendidikan untuk peserta didik baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan dengan tujuan mengembangkan secara menyeluruh dalam semua aspek dan merubah tingkah laku sesuai tujuan ini juga menyajikan hasil penelitian. Hasil penelitian dapat dilengkapi dengan tabel, grafik gambar, dan/atau bagan. Bagian pembahasan memaparkan hasil pengolahan data, menginterpretasikan penemuan secara logis, mengaitkan dengan sumber rujukan yang relevan. Kurikulum menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan Pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan Arifin, 2018 59. Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani Huda Rohmadi, 2012 9 yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu Idi, 2007 183. Dalam Bahasa latin curriculum berarti a running, course, or race course kemudian dalam Bahasa Prancis courir yang memiliki arti berlari . Dari beberapa pengertian bahasa latin tersebut kemudian digunakan istilah “courses” atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mendapatkan suatu gelar Nasution, 2003 9 Secara terminologi, pengertian kurikulum telah banyak dikemukakan oleh para ahli Nurmadiah, 2018 43. Diantaranya 1 Menurut Crow kurikulum merupakan sebuah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang telah disusun Konsep Kurikulum… 38 secara sistematik guna menyelesaikan suatu program dalam upaya meraih gelar atau memperoleh ijazah. 2 Menurut Arifin kurikulum merupakan seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional Pendidikan. 3 Menurut Mac Donald 1965; 3 Syaodih Sukmadinata 2017 kurikulum merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan yang digunakan dalam berlangsungnya proses kegiatan belajar-mengajar. Menurut definisi yang dikemukakan oleh Doll 1974; 22 Syaodih Sukmadinata, 2017 5 kurikulum memiliki pengertian yang luas tidak hanya sekedar memuat pengertian berkaitan dengan proses belajar saja, melainkan memberikan perubahan lingkup yang memuat pengalaman belajar anak di lingkungan. Namun, menurut Mauritz Johnson 1967; 130 Syaodih Sukmadinata, 2017 5 pendapat dari Doll tersebut disanggah dengan alas an bahwa pengalaman hanya akan muncul ketika adanya interaksi peserta didik dengan lingkungannya. Interaksi bukan merupakan kurikulum melainkan pengajaran. Dalam penjelasannya Johnson menegaskan bahwa pengajaran memuat perencanaan isi, kegiatan belajar mengajar, evaluasi. Sedangkan kurikulum hanya berkenaan dengan hasil-hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik. Sesuai dengan perkembangan pendidikan, kurikulum yang awalnya dipandang sebagai kumpulan dari mata pelajaran kemudian berubah makna menjadi kumpulan semua kegiatan atau semua pengalaman belajar yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan berada dalam tanggung jawab sekolah, lebih khususnya hasil belajar yang diharapkan Nurmadiah, 2018 44 Dari beberapa definisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pengertian kurikulum tidak hanya sebatas bidang studi yang termuat didalamnya maupun kegiatan belajarnya saja, tetapi mencakup segala Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Maret 2020 39 sesuatu yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik yang sesuai dengan tujuan Pendidikan yang akan dicapai sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan. b. Komponen Kurikulum Mengingat kembali fungsi kurikulum dalam proses pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka tentu hal ini berarti sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki bagian bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen yang saling berkaitan satu sama lain, berinteraksi dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum suatu sekolah mengandung tiga komponen yaitu tujuan, isi, dan strategi. Terdapat dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikulum satuan pendidikan atau sekolah sebagai berikut 1 Tujuan kurikulum a Tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah secara keseluruhan Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki sejumlah tujuan yang ingin dicapainya yang telah dirancang dalam bentuk pengetahuan, keterampilan serta sikap. b Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi Setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah juga mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan inipun digambarkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah mempelajari suatu bidang studi pada sekolah tertentu Ali, 1992 52. 2 Isi kurikulum Isi dari kurikulum adalah berupa materi pembelajaran yang diprogramkan dan disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 3 Media sarana dan prasarana Media dalam kurikulum menjadi sarana pembelajaran bertujuan untuk menjabarkan kurikulum agar lebih mudah dipahami peserta didik. Konsep Kurikulum… 40 4 Strategi Strategi pada kurikulum merujuk pada pendekatan dan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran serta teknik mengajar yang digunakan M. Ahmad, 1998 106. 5 Proses pembelajaran Komponen ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran akan terjadi perubahan tingkah pada diri peserta didik sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum. 6 Evaluasi Dengan evaluasi ini maka akan diketahui seberapa jauh tujuan yang termuat pada kurikulum dicapai. Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaitu a Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan. b Pengetahuan knowledge, informasi-informasi, data-data,aktivitas, dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. c Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guruguru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum. d Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut Nurmadiah, 2018 44-45. 2. Kurikulum Pendidikan Islam a. Pengertian kurikulum pendidikan Islam Pada awalnya integrasi antara dua sistem ilmu yaitu ilmu agama dan ilmu umum dianggap menambah persoalan dunia pendidikan Islam jadi rumit Abd. Gafar, 2006 38 yang menjadikan dikotomi pada pendidikan Islam Rahmat, 2011 141. Penggabungan tersebut melahirkan sistem kurikulum pada dunia pendidikan Islam. Kurikulum dari waktu ke Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Maret 2020 41 waktu senantiasa mengalami perkembangan yaitu dari pengertian yang sederhana sempit dan tradisional hingga pengertian yang lebih luas, canggih, dan modern. Dilihat dari segi rumusnya, kurikulum Pendidikan Islam bias dikatakan tergolong sederhana atau tradisional, karena yang dibicarakan hanya masalah ilmu pengetahuan atau ajaran yang akan diberikan. Namun dilihat dari segi ilmu yang akan diajarkan dapat dikatakan sangat luas, mendalam dan modern, karena bukan hanya mencakup ilmu agama saja, melainkan juga ilmu yang terkait dengan perkembangan intelektual, keterampilan, emosional, social, dan lain sebagainya Nata, 2016 112. Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan kata manhaj yang memiliki arti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik dan peserta didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan serta sikap Omar, 1984; 478 Subhi, 2016 120. Imam Al-Ghazali tidak disebutkan secara langsung apa yang dimaksud dengan kurikulum pendidikan Islam itu sendiri, tetapi secara maksud Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kurikulum itu didasarkan kepada dua kecenderungan yaitu kecenderungan agama dan tasawuf yang dimana ilmu-ilmu agama itu di atas segalanya sebagai alat menyucikan diri dari pengaruh kehidupan di dunia. Kemudian kecenderungan pragmatis yang berarti ilmu memiliki manfaat bagi manusia baik di dunia dan akhirat. Maka dari itu, kurikulum yang disusun harus berisi ilmu yang memberikan manfaat yang dapat dipahami, dan disampaikan secara berurutan Nisrokha, 2017 161. Kurikulum Pendidikan Islam mempunyai fungsi yang berbeda dan lebih khusus yaitu sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan mendorong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaan-kesediaan, bakat-bakat, kekuatan-kekuatan , dan keterampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan kata lain orientasi kurikulum Pendidikan Islam tidak hanya diarahkan Konsep Kurikulum… 42 untuk mencapai kebahagiaan di dunia saja, juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat, tidak hanya mengembangkan segi-segi wawasan intelektual dan keterampilan jasmani, melainkan juga pencerahan keimanan, spiritual, moral, dan akhlak mulia secara seimbang Nata, 2016 113. b. Karakteristik kurikulum pendidikan Islam Adurrahman An-Nahlawi 1979; 177 Budiyanto, 2013 122-125 menjelaskan bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam antara lain 1 Kurikulum harus sesuai dengan fitrah manusia. Karena memang salah satu fungsi pendidikan adalah untuk menyelamatkan fitrah agar fitrah anak tetap “salimah”. 2 Kurikulum yang disusun hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan Islam yaitu terwujudnya manusia berkepribadian muslim. 3 Pentahapan serta pengkhususan kurikulum harus memperhatikan periodisasi perkembangan peserta didik dengan ciri khasnya masing-masing seperti berdasar usia, lingkungan, kebutuhan, jenis kelamin, dan sebagainya. 4 Penyusunan kurikulum disamping harus memperhatikan kebutuhan individu juga harus mempertimbangkan kebutuhan umat Islam secara kolektif atau keseluruhan. Intinya kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan ilmu-ilmu yang bersifat wajib. 5 Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum tidak bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan dan harus mengarah pada pola hidup yang Islami. 6 Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang sealistik artinya dapat melaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi serta batas kemungkinan yang terdapat pada lingkungan yang melaksanakan. Jurnal MUDARRISUNA Vol. 10 No. 1 Januari-Maret 2020 43 7 Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang komprehensif yang artinya mencakup seluruh aspek pengembangan jasmani, akal dan rohani. 8 Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang dibangun di atas prinsip kontinuitas yang memiliki arti bahwa masing-masing bagian kurikulum itu saling berkesinambungan baik secara vertical maupun horizontal. PENUTUP Kurikulum adalah suatu kegiatan pendidikan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk bahan pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan halhal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan kurikulum Pendidikan Islam adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan, serta cara pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan Ia merupakan sekumpulan studi keislaman yang meliputi al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih, Tarikh, dan Kebudayaan Islam. Dalam kurikulum Pendidikan Islam harus memperhatikan beberapa hal diantaranya sesuai dengan fitrah manusia, mencakup kepentingan umat Islam pada umumnya, bersifat realistic, komprehensif dan kontinuitas. DAFTAR PUSTAKA Abd. Gafar, Irpan. 2006. “Kurikulum Dan Materi Pendidikan Islam.” Hunafa 3 1. Ali, Muhammad. 1992. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah. Bandung Sinar Baru. Arifin, Zainal. 2018. Manajemen Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam Teori Dan Praktik. Yogyakarta UIN Press. Budiyanto, Mangun. 2013. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Penerbit Konsep Kurikulum… 44 Ombak. Huda Rohmadi, Syamsul. 2012. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Yogyakarta Araska. Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik. Yogyakarta Ar-Ruzz Media. M. Ahmad. 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung Pustaka Setia. Nasution, S. 2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta Bumi Aksara. Nata, Abudin. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Prenada Media. Nisrokha. 2017. “KONSEP KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Studi Komparatif Pemikiran Al-Ghozali Dan Ibnu Miskawaih.” Jurnal Madaniyah 1 154–73. Nurmadiah, Nurmadiah. 2018. “Kurikulum Pendidikan Agama Islam.” Al-Afkar Jurnal Keislaman & Peradaban 2 2. Rahmat. 2011. “Pendidikan Islam, Ilmu, Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi.” Sulesana 6 2 136–48. Silahuddin. 2014. “KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Antara Harapan Dan Kenyataan.” Jurnal Mudarrisuna 4 331–55. Subhi, Tb. Asep. 2016. “KONSEP DASAR, KOMPONEN DAN FILOSOFI KURIKULUM PAI Oleh Tb. Asep Subhi Abstrak.” Qathruna 3 1 117–34. Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosdakarya. Syaodih Sukmadinata, Nana. 2017. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik. Bandung Remaja Rosdakarya. ... Dalam bahasa latin kurikulum berarti lari, kursus atau pacuan kuda, dalam bahasa prancis berarti courir yang berarti lari. Berdasarkan pengertian di atas, kita berbicara tentang program studi atau mata pelajaran yang harus tersedia untuk memperoleh gelar Hermawan et al., 2020. Dengan kata lain, kurikulum merupakan landasan atau titik tolak pendidikan agar pendidikan dapat terarah dan sesuai dengan harapan pendidik dan lembaga pendidikan. ...... Urutan bahan menggambarkan urutan perilaku yang pertama kali harus dikuasai siswa, berturutturut sampai perilaku terakhir. Hermawan et al., 2020. Sementara itu, dalam bukunya Teori dan Praktek Pengembangan Kurikulum PAI, Sukma Dinata mengutip berbagai sumber tentang pengembangan kurikulum, antara lain 1 Kehidupan dan pekerjaan orang dewasa, dengan isi kurikulum disesuaikan untuk mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. ...Oktia Anisa PutriIfnaldi NurmalThis study aimed to learn how the implementation of religious moderation in the development of the PAI curriculum. Researchers used the Library Research research method with historical analysis research types and data collection techniques taken from various literature that discussed the theme in question to find out this. The data that has been collected is then analyzed using content analysis techniques. The study results reveal that the inculcation of moderation values in education is so important in managing world civilization in the field of education. With a high sense of tolerance, will not blame differences. However, this does not mean that moderate Islamic teachings are wishy-washy. Still, these teachings will filter out existing disputes and unite the differences that divide the archipelago, nation and religion. Religious moderation in schools can be done through the Hidden Curriculum. The process of acculturation through the habit of internalization and institutionalization. The PAI curriculum now also uses the independent learning curriculum where the aim of the Free Learning curriculum is the policy of the Minister of Education and Culture to encourage students to master useful knowledge. and provide opportunities for students to be free but still express learning within existing limits and criticisms, without having to fade away as noble ideals and also morals for educators. The factors that influence religious moderation in schools include internal and external factors.... Therefore, implementing an education requires a concept that functions as a tool that can permanently be changed according to the times. Hermawan et al., 2020 The success of national education goals cannot be separated from the role of the curriculum proclaimed by the government. During each leadership period, the government tries to find the best formulation for developing the national curriculum in order to be able to achieve educational goals following the needs of the world of education at that time. ...Karimatus SaidahIlmawati Fahmi ImronThe operational curriculum of Sekolah Penggerak program is part of the Sekolah Penggerak program that the Ministry of Education and Culture has launched. In this curriculum, there are changes in the curriculum structure that impact the preparation of learning plans and the implementation of learning activities in the classroom. Thus, this study aims to determine the perspective of teachers and school principals on the functional curriculum of the Sekolah Penggerak Program, the form of learning planning prepared by the teacher, and the implementation of learning activities in the classroom. The research method used is a qualitative method with data analysis techniques by Miles and Huberman. The results showed that teachers and principals welcomed the operational curriculum of the Sekolah Penggerak Program because it opened up creative space for teachers and schools to develop curriculum according to school needs. Meanwhile, there are formats and terms with the 2013 curriculum in preparing learning plans. Learning activities are carried out separately between subjects in the practical aspect of learning. There is no visible learning innovation because learning activities are limited, so the teacher focuses on strengthening the material.... In detail, the structure of local religious content subjects at MA NU Miftahul Falah Kudus can be seen in the following table It is in line with the theory presented by R. Masykur, suggesting that a curriculum is several experiences planned, directed, and implemented by the school or teacher Masykur, 2019. Meanwhile, Hermawan et al. argued that the curriculum is everything related to the realization of the personal character of students following the goals of education so that it influences the quality of education itself Hermawan, Juliani, & Widodo, 2020. ...Kata KunciInternalisasi ; NilaiModerasi BeragamaWifda Untsa NailufazReligious moderation is an important comprehension among the spread of extreme religious thoughts and practices. In this case, Islamic education institutions have a major role as the spearhead in internalizing religious moderation values, including Madrasah Aliyah MA NU Miftahul Falah Kudus, Central Java. This study aims to reveal the characteristics of the local religious content curriculum focusing on religious moderation, the process of internalizing the religious moderation values, and the model of religious moderation education based on the local religious content curriculum. In its implementation, this research used a qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, observations, documentation, and a literature review. Sources of data were obtained from the head of the madrasa, deputy head of curriculum, teachers of local religious content, and students. The results of this study revealed that first, the characteristics of the local religious content curriculum at MA NU Miftahul Falah Kudus were more of Islamic boarding school-based curriculum, in which the yellow books Kitab Kuning written by classical scholars have been used as teaching material. Second, the process of internalizing the religious moderation values was taught through local religious content subjects, starting with the socialization and equalization of perceptions about religious moderation to supporting teachers, which was then internalized in all local religious content subjects, with the main emphasis on Aswaja, Ushul Fiqh, qawaidul fiqhiyyah, and religious NU subjects using a problem-based learning model combined with the sorogan and bandongan methods. The three models of religious moderation education were emphasized through Islamic boarding school-based subjects by adopting formal education using a problem-based learning model and Islamic boarding school education using the multi-strategy model in its delivery. As a formal educational institution based on an Islamic boarding school with teaching materials from the Salaf book, this madrasa is present as a formal educational model institution focusing on mainstreaming Islamic wasathiyah insight. Abstrak Moderasi beragama menjadi suatu pemahaman penting ditengah merebaknya pemikiran dan praktik beragama yang ekstrem. Lembaga Pendidikan Islam memiliki peran besar sebagai ujung tombak dalam proses internalisasi nilai nilai moderasi beragama termasuk Madrasah Aliyah NU Miftahul Falah Kudus Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkapkan karakteristik kurikulum muatan local keagamaan yang focus pada moderasi beragama, proses Internalisasi nilai moderasi beragama, dan Model pendidikan moderasi beragama berbasis kurikulum muatan lokal keagamaan. Dalam pelaksanaanya, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi serta telaah pustaka. Sumber data diperoleh dari kepala madrasah, waka kurikulum, guru pengampu muatan lokal keagamaan, dan peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan Pertama, karakteristik Kurikulum muatan lokal keagamaan di MA NU Miftahul Falah Kudus lebih bercorak kurikulum berbasis pesantren dimana kitab kuning karya ulama klasik dijadikan sebagai bahan ajar. Kedua, Proses Internalisasi nilai moderasi beragama diajarkan melalui matapelajaran muatan lokal keagamaan dengan diawali sosialisasi dan penyamaan persepsi tentang konsep moderasi beragama kepada guru pengampu yang selanjutnya diinternalisasikan pada seluruh matapelajaran muatan local keagamaan, penekanan yang paling utama pada matapelajaran Aswaja, ushul fiqih, qawaidul fiqhiyyah,dan ke-NU-an dengan model pembelajaran berbasis problem based learning berpadu dengan metode sorogan dan bandongan. Ketiga model pendidikan moderasi beragama ditekankan melalui matapelajaran berbasis pesantren dengan mengadopsi model pendidikan formal problem-based learning dan model pendidikan pesantren dengan menggunakan mult-istrategi dalam penyampaianya. Sebagai lembaga pendidikan formal berbasis pesantren dengan bahan ajar kitab salaf, madrasah ini hadir menjadi model lembaga pendidikan formal yang focus terhadap pengarusutamaan wawasan Islam SyakurHishomudin AhmadRateb AshourThis research aims to determine the Arabic curriculum model at the Markaz Arabiyah Center Foundation, Pare, Kediri. In this study, researchers used a qualitative research approach with field research methods. The subjects of this study are all lecturers and students in this institution, where researchers present data obtained from observations and interviews described by data sources. This research data is from educational institutions, community environments, and community organizations. The qualitative research approach aims to understand the meaning of conditions and situations in people's social interactions. Researchers must be directly involved to understand these conditions and phenomena. Data from this study cannot be obtained by just one field entry but must be broad in observing events that occur in the field. The data collection methods in this study were interviews, observation, and documentation. While data analysis is carried out using the analysis theory proposed by Miles and Huberman, starting with data reduction, then data presentation, and finally, concluding. The result of this study is that there are at least four curriculum modules in this institution. First, The grammar curriculum, which is the Arabic learning curriculum, is classified according to grammar subjects. Second, the Situational approach to Arabic is taught according to the student's situation. Third, the Functional approach is learning according to a general function before teaching others. Fourth, Multidimensional approach, namely teaching Arabic in terms of linguistics, communication, and cultural aspects. All modules of this curriculum are integrated into the Arabia Center AnwarEndin MujahidinSyamsul Rizal MzPerencanaan kurikulum merupakan bagian yang menentukan baik tidaknya lembaga pendidikan yang akan mendemonstrasikan penerapan kurikulum ini dalam proses pembelajaran, yang tujuan akhirnya adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan perlu memiliki rencana pengembangan kurikulum yang sangat matang untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Kurikulum Pendidikan Islam adalah pengalaman belajar. Semua kegiatan pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan merupakan bagian dari kurikulum, baik di luar maupun di dalam kelas. Sekolah adalah miniatur masyarakat. Jika sekolahnya baik, maka masyarakat juga demikian. Dalam mengembangkan kurikulum, semua pihak yang terlibat dalam penyusunan perencanaan kurikulum perlu bekerja sama dengan baik. Merencanakan kurikulum memerlukan persiapan dan strategi yang matang karena itu perlu mempertimbangkan berbagai aspek keunikan kurikulum yang dapat menjadi pembeda dengan sekolah lain. SMK Muhammadiyah Kota Bogor menerapkan dua model kurikulum, yaitu “Kurikulum Pendidikan Al-islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab ISMUBA Holistik- Integratif Berpola Kurikulum Merdeka”. Kedua model tersebut digabungkan atau diintegrasikan ke dalam mata pelajaran sehingga sesuai dengan harapan, komponen pedagogik harus bekerja sama dalam bentuk perencanaan yang matang dan kesiapan penuh untuk Ilham RosyadiUsmanKemampuan memahami konsep dasar kurikulum pendidikan Islam adalah prasyarat bagi guru sebelum ia memulai kegiatan pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk menelaah konsep dasar kurikulum pendidikan Islam melalui kajian teoritis filosofis. Penelitian ini berjenis penelitian pustaka yang dilakukan melalui pengumpulan data literatur yang sesuai dengan fokus kajian. Data yang diperleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan Islam merupakan sebuah rancangan belajar yang disusun secara sistematis, integratif, komprehensif dan berpondasi pada nilai dan ajaran agama Islam. Karakteristik yang tercerminkan dari kurikulum tersebut mengutamakan tujuan Islam, berorientasi tauhidik, memenuhi kebutuhan peserta didik dalam berbagai aspek, menyediakan materi pengetahuan yang realistis, dan menghindarkan dari pemikiran peserta didik yang dikotomis. Dalam proses penyusunannya harus berprinsip pada tujuh prinsip pokok diantaranya integral, universal, keseimbangan keterkaitan, fleksibilitas, individualisasi dan sinkronisasi. Selanjutnya, dalam perjalanannya kurikulum pendidikan Islam harus berorientasi pada pelestarian nilai, peserta didik, sosial demand, penciptaan tenaga kerja dan penciptaan lapangan AeniThis article discusses one of the goals of education, namely to educate people. The first step that must be taken before dismantling the oddity of education in Indonesia is to know in advance about the nature of human beings themselves. Many people think that humans have three elements, namely physical elements, intellectual elements, and spiritual elements. There is a part of humans called the heart which is the heart of human control. Based on this, this article will discuss the relationship between the heart and education. This article uses qualitative research methods and the conclusion of this type of research method is in the form of words based on a study of a concept of thought of a character or phenomenon that occurs and is synergized with a theory. This literature research is focused on exploring tarbiyah messages in the verses of the Qur'an, related to the theme of Qolbun Bayu AndryansahThe world of education is one of the means to support the continuity of an individual's learning process. The availability of textbooks is a means that can support the teaching and learning process in schools. Therefore, textbooks become a reference in teaching various concepts and theories related to the subjects being studied. The purpose of this study is to examine the suitability of the content and presentation of the material to the applicable KD, as well as to see or find the comparison of the K-13 textbooks with the KTSP. The method used in this research is descriptive qualitative with analyzed content as well as conducting a study of books and reference sources as well as conducting observations to collect supporting data. The instrument used in data collection was a textbook assessment sheet and the data were analyzed using a textbook feasibility scale. The results of this study were obtained which were and respectively with the predicate very feasible/appropriate in terms of content relevance, then and with the predicate very feasible/appropriate in terms of feasibility and/or the suitability of presenting science textbooks, both the K-13 and KTSP in the inheritance of grade IX grades for SMP and MTs to KD Basic Competence so that they can be used as a source of reference for student learning at the education unit level. Muhammad Cholid AbdurrohmanAbstrak Kurikulum dalam pendidikan Islam adalah pengalaman belajar. Segala kegiatan pembelajaran yang terjadi di lembaga pendidikan adalah bagian dari kurikulumm baik itu kegiatan di luar ataupun di dalam kelas. Sekolah adalah miniatur masyarakat. Bila sekolah baik maka masyarakat juga demikian. Proses perencanaan adalah usaha untuk menyiapkan masa yang akan datang melalui keputusan keputusan yang diambil pada masa kini. Perencanaan dalam pendidikan adalah keputusan yang dibuat tentang tujuan belajar beserta strategi dan metode yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut serta telaah tentang efektivitas dan makna dari metode dan strategi tersebut. Kurikulum mengandung empat komponen inti yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi. Perbedaan pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya terletak orientasinya yang menuju pada kehidupan setelah kematian. Perencanaan kurikulum pendidikan Islam harus berasaskan nilai nilai ketuhanan dan berlandaskan pada sumber sumber Islam itu sendiri, karena pendidikan Islami adalah bagian dari misi Islam yang rahmatan lil alamin. Dalil dalil dari Al Qur’an dan Hadits adalah ruh dan hikmah dalam perencanaan kurikulum pendidikan Islam. Perencanaan kurikulum yang baik akan menjadikan output pendidikan Islam sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. Abstract The curriculum in Islamic education is a learning experience. All learning activities in educational institutions are part of the curriculum, both outside and inside the classroom. Schools are small communities. If the school is good, then the community is too. The planning process attempts to prepare for the future through decisions made in the present. Planning in education is a decision made about learning objectives and the strategies and methods needed to achieve these goals and a study of the effectiveness and meaning of these methods and techniques. The curriculum contains four core components objectives, content, processes, and evaluation. The difference between Islamic education and other education lies in its orientation towards life after death. Islamic education curriculum planning must be based on religious values and Islamic sources because Islamic education is part of the Islamic mission that is rahmatan lil 'alamin mercy to the world. The arguments from the Qur'an and Hadith are the spirit and wisdom in planning Islamic education curriculum. Good curriculum planning will make the output of Islamic education following the educational goals that have been NurmadiahKurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Tujuan pendidikan disuatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa atau negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan tersebut dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi. Kurikulum PAI memiliki kedudukan sangat penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Dalam kenyataannya, guru PAI sebagai pelaksana kurikulum masih belum memahami hakikat kurikulum. Masih banyak pendidik PAI yang menyusun silabus dan RPP sebagai bagian dari kurikulum hanya untuk administrasi. Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, teknik, media pengajaran dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan Islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya. Komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahwa tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum Kurikulum Pendidikan IslamHuda RohmadiSyamsulHuda Rohmadi, Syamsul. 2012. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Yogyakarta Kurikulum Teori Dan Praktik. Yogyakarta Ar-Ruzz MediaAbdullah IdiIdi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik. Yogyakarta Ar-Ruzz Kurikulum. Bandung Pustaka SetiaM AhmadM. Ahmad. 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung Pustaka NataNata, Abudin. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Prenada 2017. "KONSEP KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Studi Komparatif Pemikiran Al-Ghozali Dan Ibnu Miskawaih." Jurnal Madaniyah 1 DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Antara Harapan Dan KenyataanSilahuddinSilahuddin. 2014. "KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Antara Harapan Dan Kenyataan." Jurnal Mudarrisuna 4 331-55. SubhiAsepKomponen Dan Filosofi Kurikulum Pai Konsep DasarOlehSubhi, Tb. Asep. 2016. "KONSEP DASAR, KOMPONEN DAN FILOSOFI KURIKULUM PAI Oleh Tb. Asep Subhi Abstrak." Qathruna 3 1 Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja RosdakaryaMuhibbin SyahSyah, Muhibbin. 2009. Psikologi Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Kurikulum Teori Dan PraktikNana Syaodih SukmadinataSyaodih Sukmadinata, Nana. 2017. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik. Bandung Remaja Rosdakarya.
Faktanya banyak orang rajin datang ke tempat majlis agama namun sifatnya masih suka iri dengki, julid dan lain sebagainya. menjadi sufi adalah sikap bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk. Ciri yang utama adlah orang tersebut bersikap tenang, tawadu', mencintai Tuhan dan ciptaannya, cinta kasih kepada sesame. Wallahu a'lam.Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan oleh pertanyaan dari seseorang yang rupanya rajin membaca tulisan pendek dan sederhana yang sehari-hari saya tulis dan kemudian saya posting melalui website atau facebook. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana saja, ialah apakah di madrasah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi Islam tidak diajari tentang Islam. Pertanyaan tersebut memang bisa dimaknai dari berbagai sudut atau juga kepentingan. Misalnya,pertanyaan itu merupakan kritik tajam terhadap pelaksanaan pendidikan Islam selama ini, atau juga sebaliknya, memang yang bersangkutan benar-benar belum mengerti tentang pendidikan Islam itu sendiri. Selain itu masih ada makna lainnya, misalnya, penanya kecewa terhadap hasil pendidikan islam selama ini, belum sesuai dengan apa yang diinginkan. Dan tentu, masih banyak lagi interpretasi lainnya. Penanya mengaku bahwa dirinya bukan seorang muslim, tetapi rajin membaca tulisan saya melalui facebook pada setiap ada kesempatan. Melalui bacaan itu, ia mengaku bahwa prinsip-prinsip hidup yang dijalani sehari-hari terasa sama dengan nilai-nilai Islam yang saya jelaskan lewat tulisan-tulisan itu. Seharusnya dengan prinsip-prinsip hidup sebagaimana yang ditangkap dari ajaran Islam, orang akan mengalami kemajuan. Akan tetapi, ia merasa aneh tatkala melihat umat Islam tidak tampak maju, baik dari aspek pendidikannya, ekonominya, pengembangan ilmu pengetahuan, politik, dan apalagi teknologinya. Umat Islam menurut hasil pengamatannya di mana-mana, selalu tertinggal. Menurut penglihatannya belum ada karya umat Islam yang bisa dibanggakan, kecuali jumlah orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Keadaan dinilai menjadi lebih parah lagi, tatkala ia melihat masyarakat arab pada umumnya. Sekalipun bangsa itu kaya minyak, tetapi tidak ada kemajuan yang bisa dibanggakan. Padahal, dengan ajaran Islam sebagaimana yang ia baca melalui tulisan-tulisan tersebut, seharusnya umat Islam sangat maju. Islam mengajarkan agar umatnya mencintai ilmu pengetahuan, selalu meningkatkan kualitas hidup, memegang prinsip kejujuran, keadilan, kebersamaan, tolong menolong, menjalankan kegiatan ritual, dan juga keharusan bekerja secara profesional atau dalam bahasa Islam disebut beramal saleh. Dengan ajaran seperti itu maka seharusnya umat Islam, tidak terkecuali bangsa-bangsa Arab menjadi pelopor kemajuan peradaban umat manusia. Di tengah suasana bingung tidak mendapatkan sendiri jawaban yang jelas itu, ia bertanya, lewat facebook, apakah di madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi agama tidak diajarkan tentang Islam, yaitu sebagai ajaran yang seharusnya membawa kemajuan itu. Sudah barang tentu, saya menjawab secukupnya. Tetapi pertanyaan itu seolah-olah menghentak alam kesadaran saya, sehingga saya juga bertanya di dalam hati, jangan-jangan pendidikan Islam yang selama ini diberikan dari generasi ke generasi, sebenarnya memang belum mengenai sasaran yang sebenarnya, yaitu membentuk karakter, watak atau pribadi unggul sebagaimana yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Membaca pertanyaan lewat facebook tersebut, saya justru teringat pesan singkat saya, kepada semua warga kampus UIN Malang yang saya abadikan pada prasasti yang ada di depan samping kantor pusat. Tulisan itu, saya ambil dari al Qur'an yang berbunyi kunuu ulinnuha, kunnu ulil abshar, kunuu ulil albaab, wa jaahiduu fillah haqqa jihadihi. Umpama pendidikan Islam benar-benar mampu menjadikan generasi memiliki otak yang cerdas, pandangan mata dan telinga yang tajam, menjadikan hati lembut dan mau berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya perjuangan, maka umat Islam akan maju, mengungguli umat lainnya. Atas pertanyaan tersebut, sekalipun disampaikan oleh orang yang mengaku bukan sebagai penganut Islam, saya merenung dan berpikir, bahwa jangan-jangan pendidikan Islam yang dijalankan selama ini memang masih harus diformulasi kembali. Seharusnya, dengan al Qur'an dan hadits nabi, umat Islam menjadi cerdas, tajam penglihatan dan pendengarannya, halus budinya, dan selalu berbuat untuk kemaslahatan diri dan umatnya. Dan bukan seperti yang terjadi sekarang ini, yaitu masih tertinggal jauh di belakang komunitas lainnya. Wallahu a'lam hadisttarbawi tujuan pendidikan. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, lalu apa sebenarnya tujuan kita menuntut ilmu. Salah satu tujuan pendidikan islam adalah menjadikan seorang bertaqwa dan berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan tujuan nasional pendidikan Negara kita, dimana tujuan pendidikannya adalah menciptakan manusia yang Memahami Konsep Dasar dan Lingkup KajianOleh; Wahdi SayutiA. Pengertian Pendidikan IslamMemahami pendidikan Islam dapat ditelusuri melalui keseluruhan sejarah kemunculan Islam itu sendiri. Tentu saja untuk memahaminya, tidaklah dipahami sebagai sebuah sistem pendidikan yang sudah mapan dan sistematis, melainkan proses pendidikan lebih banyak terjadi secara insidental bahkan mungkin lebih banyak yang bersifat jawaban dari berbagai problematika yang berkembang pada masa dalam Islam, secara bahasa memiliki terma yang sangat varian. Perbedaan ini tidak terlepas dari banyaknya istilah yang muncul dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits—sebagai sumber rujukan utama pendidikan Islam—yang menyebutkan kata kalimah yang memiliki konotasi pendidikan atau pengajaran. Setidaknya, ada empat 4 istilah yang digunakan untuk menyebutkan makna pendidikan, misalnya tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah. Tiga 3 dari empat 4 istilah tersebut pernah direkomendasikan oleh Konfrensi Internasional I tentang Pendidikan Islam di Mekkah pada tahun 1977.[1] Masing-masing terma tersebut, jelas memiliki aksentuasi dan implikasi yang berbeda. Berikut akan dijelaskan masing-masing istilah tersebut. 1. Al-TarbiyahMenurut Abdurrahman Al-Nahlawi, kata tarbiyah secara bahasa merupakan kata yang berasal tiga 3 akar kata, yakni, pertama raba – yarbu, yang berarti bertambah atau bertumbuh. Pengertian ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an, surat Al-Rum, ayat 39.[2] Kedua, berasal dari rabiya-yarba, yang berarti menjadi dasar, dan yang ketiga, rabba-yarubbu, yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntut, menjaga dan memelihara. Pengertian ini dapat dilihat pada Al-Qur’an, surat Al-Isra, ayat 24.[3] Sementara, menurut Naquib Al-Attas, kata tarbiyah mengandung konotasi mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, menumbuhkan membentuk dan juga menjadikannya lebih matang. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan Al-Tarbiyah adalah proses mengasuh, membina, mengembangkan, memelihara serta menjadi kematangan bagi suatu objek. Bahkan dalam hal ini, Imam Baidawi memperjelas makna Tarbiyah dengan “Al Rabbu fi al Ashli bima’na al-Tarbiyah, wahiya al-Tabligh al-Syai’u ila kamalihi syai’an fa syay’an Al-Rabb asal katanya bermakna Tarbiyah, yakni menyampaikan atau mengantarkan sesuatu menuju ke arah kesempurnaan sedikti demi sedikit.2. Al-Ta’dibKata Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba, yang berarti pengenalan dan pengakuan yang secara bertahap ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan Kekuasaan dan Keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.[4] Pengertian ini didasarkan pada Hadits Rasulullah saw. yang mengatakan “addabani rabbi fa ahsana ta’dibi” Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku. Kata Ta’dib ini menurut Naquib Al-Attas merupakan istilah yang lebih mendekati pemahaman ilm. Atau dengan kata lain Ta’dib dipahami sebagai istilah pendidikan yang lebih mengarah pada proses pembelajaran, pengetahuan dan pengasuhan. Oleh karenanya, Naquib beranggapan bahwa penggunaan istilah Ta’dib lebih proporsional ketimbang istilah Tarbiyah untuk menyebut istilah Pendidikan Al-Ta’lim Menurut Abdul Fattah Jalal dalam buku Minal Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam, istilah Ta’lim diartikan dengan proses yang terus menerus diusahakan manusia sejak lahir untuk melakukan pembinaan pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah.[5] Batasan pengertian ini dipahami lebih luas cakupannya dibandingkan dengan istilah Al-Tarbiyah, terutama dalam konteks sequency cakupan dan wilayah subjek atau objek didiknya. Sementara menurut Athiyah Al-Abrasy, ta’lim diartikan dengan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja. Al-Ta’lim merupakan bagian kecil dari al-tarbiyah alaqliyah, yang hanya mencakup domaik kognitif saja dan tidak menyentuh aspek domain afektif dan Riyadhah Istilah riyadhah merupakan istilah pendidikan yang digunakan dan dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali untuk menyebutkan istilah pelatihan terhadap pribadi individu pada fase anak-anak, atau yang dikenal dengan riyadhatusshibyan.[6] Imam Al-Ghazali dalam mendidik anak, lebih menekankan pada domain afektif dan psikomotor dibandingkan penguasan dan pengisian domain kognitif intelektual. Dalam praksisnya, para pakar berbeda pendapat mengenai definisi pendidikan Islam itu sendiri. Berikut beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam dalam mendefinisikan istilah Pendidikan Islam;a. Muhammad Athiyah Al Abrasyi; “Pendidikan Islam Al Tarbiyah Al Islamiyah adalah usaha untuk menyiapkan manusia agar hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaan, manis tutur katanya baik lisan maupun D. Marimba; Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran M. Yusuf Al Qardawi; pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karenanya pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya serta manis dan pahitnya.[7]d. Hasan Langgulung; Pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[8]e. Azyumardi Azra; Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan berbahagia di dunia dan akhirat.[9]f. Zakiyah Daradjat; Pendidikan Islam merupakan proses pembentukan kepribadian manusia sebagai muslim.[10]Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada manusia yang mencakup jasmani dan rohani yang berdasarkan pada ajaran dan dogma agama Islam agar terbentuk kepribadian yang utama menurut aturan Islam dalam kehidupannya sehingga kelak memperoleh kebahagiaan di akhirat yang muncul dan dapat didiskusikan adalah dari beberapa istilah tersebut tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah manakah yang relevan untuk menyebutkan dan mewakili istilah pendidikan Islam?, Pertanyaan lain yang dapat dimunculkan adalah “apakah pendidikan Islam itu sama atau berbeda dengan pendidikan pada umumnya berkaitan dengan dasar sumber, orientasi serta nilai yang ditransfer”.B. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam Secara sederhana yang dimaksud dengan Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang membahas dan memuat teori tentang pendidikan Islam. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan apakah dalam Ilmu Pendidikan Islam, terdapat teori yang tidak berdasarkan Islam?. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Ilmu Pendidikan Islam ini, maka akan diulas terlebih dulu mengenai pengertian ilmu itu sendiri. Menurut Ahmad Tafsir, Ilmu merupakan pengetahuan yang logis dan mempunyai bukti empirik dan dilakukan dengan cara riset penelitian.[11] Singkatnya—menurut Tafsir—yang dimaksud dengan ilmu haruslah memuat objek yang empiris serta dapat diterima dengan logis. Lebih lanjut, Tafsir membuat matriks pengetahuan manusia sebagai berikutTabel 1. Matriks Pengetahuan ManusiaDiadaptasi dari Ahmad TafsirBerdasarkan pengertian dan matriks di atas, maka yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia atas dasar riset, bersifat empiris dan dapat dilakukan dengan menggunakan indera dan akal. Pertanyaannya kemudian, apakah Pendidikan Islam sudah memenuhi aspek-aspek tentang Ilmu tersebut atau belum?. Jika sudah maka Pendidikan Islam dapat dikategorikan sebagai ilmu science, akan tetapi jika salah satu syaratnya hilang, maka Pendidikan Islam belum “layak” dikategorikan sebagai suatu ilmu science. Seperti disinggung dimuka, bahwa Ilmu Pendidikan Islam secara teoritikal merupakan pengetahuan yang membahas tentang teori-toeri pendidikan yang berdasarkan atas Islam, yang oleh karenanya pembahasan yang dimuat dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah teori-teori yang terkait dengan pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam Sebagaimana pengertiannya, maka lingkup bahasan yang menjadi kajian Ilmu Pendidikan Islam ini adalah masalah-masalah pendidikan atas dasar ajaran Islam yang mencakup aspek tujuan, pendidik, anak didik, bahan, metode, kurikulum, alat, evaluasi dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan Fungsi Pendidikan Islam Secara sederhana, fungsi Pendidikan Islam adalah sarana untuk menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan Islam dapat tercapai dan berjalan dengan lancar. Menurut Kurshid Ahmad, fungsi pendidikan Islam adalahAlat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasionalAlat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan Sumber RujukanArifin, HM., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta PT. Logos Wacana Ilmu, 2000, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, cet. ke-4Muhamin, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung PT. Trigenda Karya, 1993, cet. ke-1Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan; Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, Yogyakarta PT. Tiara Wacana, 2002, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 1994, cet. ke-1Soebahar, H. Abd. Halim, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 2002, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001, pada perkuliahan Kedua Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam di Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 09 Maret 2011[1]Lihat, Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Jakarta Kalam Mulia, 2002, h. 2. Konfrensi tersebut merekomenadikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah “totality in context of Islam inherent in the conotation of three each these term conveys concerning man in his society and environment in relation to God Islam related to ten other and together they represent the scope of education in Islam both “Formal” and “non Formal” Conference Book, 1997 1.[2]Wa mã ãtaitum min ribban liyarbũ fi amwãli al-nas falã yarbũ inda Allah Dan suatu riba tambahan yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.[3]… rabbi irhamhumâ kamâ rabbayâni shaghirâ ya Tuhan, sayangilah keduanya ibu-bapak sebagaimana mereka telah memelihara mengasuhku sejak kecil.[4]Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung PT. Trigenda Karya, 1993, h. 133-134[5]Lihat, Abd. Halim Soebahar, Op. Cit., h. 4-5, dan Muhamin, Ibid., h. 132[6]Muhaimin, h. 134[7]Yusuf Al Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Ghani dan Drs. Zainal Arifin Ahmad, Jakarta Bulan Bintang, 1980, h. 157[8]Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam Bandung Al Ma’arif, 1980, h. 94[9]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta PT. Logos Wacana Ilmu, 2000, h. 8[10]Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2000, cet. ke-4, h. 27-28[11]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001, h. 15 MenurutSahertian (2000 : 1) mengatakan bahwa pendidikan adalah "usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan." Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan.
- Βеск чущакաσա վаղоχօчፊр
- Ηаγοገ ጦеτባ ፕц
- Учաчօд ωդиμиклаኚа утриδ